Rabu, 12 Oktober 2011

Membangun cinta dengan kebaikan


MEMBANGUN CINTA DI ATAS KEBAIKAN-KEBAIKAN

Sewaktu kita remaja dan menginjak masa puberitas saat itu kita mengenal cinta, yang kata orang-orang dewasa bahwa cinta itu hanya mampu dirasakan tanpa bisa didefinisikan secara pasti dengan batasan yang baku, karena cinta itu relative tergantung person-person yang merasakan. Dorongan yang ditimbulkan oleh cinta sangat besar pengaruhnya dalam perbuatan seseorang. Kisah romantic romi dan yuli menggambarkan betapa cinta mampu menimbulkan dorongan yang fantastis suatu dorongan untuk menyudahi kehidupan, dimana banyak orang yang mati-matian ingin tetap hidup hatta berobat dengan uang yang tidak sedikit.  Itu semua dilakukan dengan dalih cinta. Bagaimana siti Zálaikha berani berbohong itu juga ia lakukan dengan dilatarbelakangi kasus asmara yang membuncah kepada sang rupawan Yusuf AS yang diasuhnya sejak belia. Begitu juga babad cirebonan tentang kang Baridin putra mbok wangsih yang cinta nya tertolak kemudian menggunakan rapalan kemat jaran guyang nya itu juga kisah yang berlatarkan cinta.Berbeda dengan dorongan perbuatan yang dilakukan didasari oleh rasa takut Seorang akan  melakukan perintah tersebut akan tetapi sebatas kehadiran si pemberi perintah saja bila sang pemberi perintah lengah dia pun akan kembali membantah. seperti kasus tahun 1966-1967 pada saat itu masjid-masjid penuh sesak dengan orang-orang, karena ada case DI/TII akan tetapi setelah keadaan membaik dan keamanan mulai kondusif masjid-masjid sepi kembali dan ditinggalkan orang-orang. Berbeda dengan dorongan yang ditimbulkan oleh cinta, gaya dorongnya lebih  massif dan kontinyu juga lebih elegan tanpa kemunafikan dan kamuflase jilat menjilat, oleh karena itu kali ini saya akan membahas bagaimana membangun cinta di atas kebaikan-kebaikan, bagaimana bisa suatu kebaikan bisa mendatangkan cinta. Cinta Allah, cinta yang abadi. Cinta yang sebenarnya, dan cinta profesional karena setelah diuji secaara material hanya cinta kepada Allah lah saja yang bisa memberi manfaat.
Pertanyaan yang timbul kemudian, Bagaimana memperoleh cinta Allah???
Seperti yang telah kita fahami bila ada seorang ingin mendapatkan cinta cara yang biasa dilakukan ialah dengan memberi kebaikan-kebaikan, entah dengan memberi kado-kado yang cantik, Memberi perhatian yang lebih, menolong segala kesusahannya dan lain sebagainya. Begitu juga bila kita ingin mendapatkan ‘’cinta”, Ridho Allah perbanyaklah melakukan kebaikan-kebaikan. Seperti Firman Allah:
“innaAllah ma’alladzinataqaw waladzina hum muhsinuun”
Artinya: Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang banyak berbuat  kebaikan(QS.An-Nahl 128)
Kebaikan-kebaikan yang kita lakukan InsyaAllah bisa memancing cinta dan ridho Allah kepada kita, kebaikan yang tulus tanpa pamrih material. Kebaikan yang didasari keikhlasan dan pembuktian tentang cinta kita yaitu dengan pengorbanan-pengorbanan baik secara materiil maupun immaterial.
Cinta tidak mungkin timbul dengan kekerasan paksaan dan tekanan. Sangat rasional Al-qur’an menyatakan Dalam surat Al-Baqoroh Ayat 265:
Laa ikroha fiddin…………
Artinya: “Tak ada paksaan dalam beragama”
Lebih jauh lagi Alqur’an menyatakan, kebaikan yang kita lakukan sebenarnya berbalik pada diri kita sendiri, begitu juga dengan kejahatan yang kita lakukan pada gilirannya kita harus siap menuai dari apa yang telah kita tanam.
“In ahsantum ahsantum lianfusikum wain asa’tum fa laha” (QS al-Isro ayat 7)
Arinya: Jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik bagi diri kamu sendiri dan jika kamu berbuat jahat maka bagi diri kamu (juga).
Secara psikologis kebaikan-kebaikan akan mendatangkan kedamaian jiwa. Dan kejahatan akan menimbulkan rasa resah, gelisah dan tidak nyaman dalam hati. Itu yang dinamakan mahkamah dhomir(tersembunyi) suatu mahkamah yang ada dalam hati kita yang selalu mengadili memberi advokasi lalu memvonis dari setiap perbuatan yang kita lakukan. Jika mahkamah dzahir atau nyata mengadili perbuatan yang buruk saja misal seseorang melakukan korup lalu pelakunya diadili, mahkamah dhomir memberi reward pada kebaikan dan memberi phunismen pada perbuatan jahat. Mahkamah dhomir ada dalam hati kita.
Lebih  jauh dalam konteks ini Sayyidina ‘Ali Ibn Abi Thalib berkata “aku tidak pernah berbuat baik kepada seseorang, tidak juga pernah berbuat jahat”
Akhir kata “orang cerdas adalah bukan orang yang mampu menterjemahkan kata-kata, orang cerdas adalah orang yang mampu menangkap maksud pembicara walau kata yang digunakan kurang tepat”
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat dimengerti maksudnya.
WaAllahu ‘Alam bishowab…..
***

By: Faizah Syathory



Tidak ada komentar:

Posting Komentar