Rabu, 12 Oktober 2011

Akhlak mulia esensi pendidikan Islam


BAB I
PENDAHULUAN


A.          LATAR BELAKANG MASALAH
Issue yang sedang hangat kini ialah bagaimana meningkatkan IPM (indeks pembangunan manusia). IPM mempunyai beberapa ranah yakni: Ekonomi, Kesehatan dan pendidikan. Pendidikan merupakan sesuatu yang bisa dianggap sebagai jembatan untuk meraih ekonomi dan kesehatan dimana dengan pendidikan seseorang bisa berpengetahuan luas tentang tata cara  memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan pendidikan, manusia diajarkan bagaimana menjaga kesehatannya. Melakukan hal-hal preventive terhadap lingkungannya agar dia mampu hidup sehat dan selaras.
Dengan alasan itulah pemerintah berkonsentrasi pada bidang pendidikan yang diharapkan bisa mendongkrak IPM di negara Indonesia menjadi lebih baik. Alokasi dana pendidikan diperbesar. Infrastruktur sekolah dan madrasah dibenahi serta pengangkatan pendidik dan tenaga kependidikan juga selalu mendapat porsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan formasi yang lainnya.
Adanya kebijakan pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme guru  dan dosen dengan pacuan tunjangan  profesi diharapkan dapat meningkatkan mutu  pendidikan.
Tapi  kemudian pendidikan yang diharapkan dapat menjadi tumpuan pembangunan tersebut, seakan mandul, adanya seperti tidak adanya, system pendidikan yang diadakan satuan pendidikan baik yang swasta maupun negeri hanya bersifat rutinitas transfer pengetahuan, tanpa ruh karakter yang baik, setiap kali masuk musim UN selalu saja terdengar kecurangan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu yang menodai pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan hanya bertendensi kepada pencapaian nilai normative saja, dengan passing grade yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penentuan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang tinggi memaksa guru untuk memasang nilai tinggi pada mata pelajaran yang diampunya. Inilah pergeseran nilai pendidikan yang terjadi, yang mana  pendidikan diharapkan mampu mencetak generasi yang mandiri yang bisa berkompetitif dalam hidupnya dibenturkan pada nilai-nilai normative yang harus ia capai dalam UN.
Sehingga realita yang terjadi ialah bagaimana kriminal-kriminal berkelas kakap di negeri ini justru dilakukan oleh orang-orang yang notabene berpendidikan formal tinggi.
Dunia pendidikan di Indonesia memang menghadapi problematika yang sangat kompleks dan menuntut pembenahan yang seksama. Namun demikian, memvonis bahwa pendidikan di tanah air gagal total, tidaklah adil. Apa lagi, vonis kegagalan pendidikan tersebut dengan membandingkan semisal dengan negara Singapura, Malaysia, Vietnam, atau negara-negara lainnya. Pakar pendidikan yang juga Rektor Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Prof. Dr. Numan Soemantri mengatakan, "Indonesia memiliki banyak persoalan pendidikan, namun Indonesia mempunyai problematika pendidikan yang berbeda dengan negara-negara lain, baik dilihat dari sejarah lahirnya bangsa ini, luasnya wilayah, dan besarnya jumlah penduduk. Maka memvonis kegagalan pendidikan di Indonesia dengan parameter negara lain tidak adil (Sutomo dalam Pikiran Rakyat: 25 November 2005). Pendidikan Agama Islam diharapkan mampu menjawab persoalan-persoalan ruhiyah pendidikan
Bagaimana pendidikan Islam bisa mengantarkan anak-anak didik bangsa yang Beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi bermasyarakat berbangsa dan bernegara sehingga terwujud Baldatun thoyyibatun warobbun ghofuur[1].

B.          RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan dari latar belakang tersebut diatas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan tersebut menjadi: Apa dan bagaimana Akhlaqul kariimah yang menjadi esensial dari Pendidikan Agama Islam?



BAB II
AKHLAK MULIA KARAKTER ESENSIAL PENDIDIKAN  ISLAM


A.          PENGERTIAN PENDIDIKAN ISLAM
Pendidikan Islam, dalam kongres II tentang Pendidikan Islam yang diadakan di Islamabad pada tahun 1980, dirumuskan sebagai pendidikan yang bertujuan untuk mencapai pertambahan dari pribadi manusia secara menyeluruh melalui latihan-latihan kejiwaan, akal fikiran, kecerdasan, perasaan dan panca indera. oleh karena itu pendidikan Islam harus mengembangkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, keilmuannya, serta bahasanya baik secara individual maupun kelompok, dan mendorong aspek-aspek itu kearah pencapaian kesempurnaan hidup[2].
Seorang pakar pendidikan Islam lainnya, Zuhairini, menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak sesuai dengan ajaran Islam, berfikir, memutuskan dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam[3]. Sebab bagi umat Islam, agama merupakan dasar utama dalam mendidik anak-anaknya melalui sarana-sarana pendidikan. Karena dengan menanamkan nilai-nilai agama akan sangat membantu terbentuknya sikap dan kepribadian anak kelak pada masa dewasa.
Kemudian pendidikan Islam juga bermakna suatu system kependidikan yang mencakup seluruh aspek yang dibutuhkan oleh hamba Allah SWT. Oleh karena itu Islam memberikan pedoman seluruh aspek kehidupan manusia muslim baik dunia maupun akhirat. Dengan demikian jelaslah bahwa semua cabang ilmu pengetahuan yang secara materiil bukanlah Islamis, termasuk ruang lingkup pendidikan Islam juga, sekurang-kurangnya menjadi bagian yang mununjang.
Rumusan-rumusan diatas menunjukkan bahwa pendidikan Islam mempunyai cakupan yang sama luasnya dengan pendidikan umum bahkan melebihinya. Sebab pendidikan Islam juga membina dan mengembangkan pendidikan, dimana titik beratnya terletak pada internalisasi nilai Iman, Islam, dan Ihsan dalam pribadi manusia muslim yang berilmu pengetahuan luas. Dengan demikian apa yang kita kenal dengan pendidikan agama Islam di negeri kita adalah merupakan bagian dari pendidikan Islam yang tujuan utamanya ialah mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama sekaligus mengajarkan ilmu agama Islam, sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam secara benar sesuai dengan pengetahuan agama.

B.          TUJUAN DAN ASASI PENDIDIKAN ISLAM
Prof. Mohammad Athiyah al-Abrasy dalam kajian tentang pendidikan Islam yang diuraikan dalam bukunya at-tarbiyah al-Islamiyah wa falsafatuha telah mengumpulkan 5 tujuan yang asasi bagi pendidikan Islam yaitu:
Pembentukan akhlak mulia
1.        Membekali jiwa untuk kehidupan dunia akhirat
2.        Membekali jiwa untuk bisa memberdayakan Sumber Daya Alam, guna memenuhi hajat hidup biologisnya.
3.        Menumbuhkan ruh Islamiyah (Scientific spirit) pada pelajar dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui (couriusity) dan memungkinkan mengkaji ilmu lebih mendalam lagi.
4.        Menyiapkan pelajaran dari segi professional , teknis perusahaan supaya ia dapat menguasai profesi tertentu dan perusahaaan tertentu.
Untitled.pngPoint-point diatas memberi kesan tujuan pendidikan agama Islam ialah pembentukkan manusia seutuhnya sejalan dengan apa yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an seperti termaktub dalam surat Al Anbiya (21 : 107)


Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”
Pengutusan Nabi Muhammad bukanlah untuk memberatkan manusia, bukan untuk menakut-nakuti manusia atau bukan pula untuk membebani manusia dengan berbagai kewajiban. Akan tetapi hanya sebagai Rahmat. Kalau bukan untuk memberi rahmat nabi Muhammad tidak di utus kepada umatnya. Begitu juga kita sebagai umatnya keberadaan kita di pentas sandiwara dunia ini adalah untuk menebarkan rahmat kasih sayang. Untuk  tujuan itu pula kita harus berakhlak mulia disesuaikan dengan al-qur’an dan hadist[4].

C.          URGENSI AKHLAK MULIA
Untitled.pngDalam kamus besar bahasa indonesia kata Akhlak diartikan sebagai budi pekerti yang luhur atau kelakuan. Kata akhlak walaupun diambil dari bahasa arab (yang biasa berartikan tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama). Namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Yang ditemukan hanyalah bentuk mufrod kata tersebut yaitu khuluq yang tercantum dalam Al-qur’an surat Al-Qolam ayat 4 . Ayat tersebut dinilai sebagai konsiderans pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul [5].


“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”(Al-Qolam: 4)
Allah adalah Khalik yang menciptakan segala sesuatu di luar diri-Nya. Sedangkan segala sesuatu yang diciptakan-Nya disebut makhluk. Manusia dan segala sesuatu yang menyertainya adalah juga makhluk. Sementara akhlak,  apakah yang di maksud dengan akhlak itu? Jawabannya sangat mudah. Akhlak ialah semua tingkah laku dan gerak-gerik makhluk dan yang dimaksud makhluk di sini (telah dipersempit) ialah manusia (hanya menyangkut tingkah laku manusia saja).
 Akhlak yang benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi seorang muslim adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut atau tidak secara utuh diukur dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sedangkan tradisi merupakan pelengkap selama hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber akhlak merupakan suatu kewajaran bahkan keharusan sebab keduanya berasal dari Allah dan oleh-Nya manusia diciptakan. Pasti ada kesesuaian antara manusia sebagai makhluk dengan sistem norma yang datang dari Allah SWT.
Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keIslaman dan keimanan seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya aqidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap aqidah dan syariah. “Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur aqidahnya.”(HR.Tirmidi).Dan nabi juga bersabda konsiderans pengutusannya di muka bumi ialah untuk menyermpurnakan akhlak atau peradaban:
انما بعثت لاتمما مكارم الاخلاق ( متفق عليه )
Sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq
Kebanyakan manusia pada zaman sebelum nabi Muhammad, berakhlaq jahiliyyah suatu akhlaq yang jauh dari pedoman dari sumber pendidikan Islam hukum kehidupan yang dianut dan digunakan adalah hukum buatan manusia sehingga semua kebijakan dan ketentuan dibuat sedemikian rupa sesuai dengan kepentingan orang yang membuatnya dan tak ayal membuat kehidupan sebagian banyak mausia pada zaman itu penuh dengan kegelisahan jauh dari ketentraman,  yang kemudian Nabi Muhammad Turun membawa Risalah Allah untuk seluruh ummat yaitu Risalah Islam yang sempurna untuk mengajak manusia menuju kehidupan yang tentram.
Karena itu, beragama sebenarnya bukanlah sebuah kewajiban seorang hamba terhadap Allah, melainkan kebutuhan bahwa kita membutuhkan petunjukNya agar terhindar dari penderitaan hidup menuju kebahagiaan. Agar terhindar dari kesempitan hidup, menuju pada hidup yang lapang. Agar terhindar dari kegelapan jiwa menuju suasana yang terang benderang . Dan petunjuk itu ada dalam Al-Qur’an[6]. Hal ini sejalan dengan Firman Allah pada QS THOHA(20):124


Untitled.png
 




Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta".
Rasulallah memberikan contoh tauladan  kepada umatnya dalam bidang pembinaan dan pendidikan ini. Sehingga hasil dari system pembinaan dan pendidikan beliau adalah generasi terbaik dari umat ini sebagaimana disabdakan oleh beliau:
sebaik-baik umat ini adalah generasi dimana aku diutus di dalamnya,kemudian generasi yang dekat dengan mereka” (HR:MUSLIM)
Pendidikan bukanlah sekedar adanya gedung sekolah yang mewah, guru dan murid, boleh jadi gedung sekolah tidak ada tapi proses pendidikan bisa berhasil dengan baik. Rasulallah misalnya, beliau adalah pendidik nomor satu di dunia. Beliau berhasil mendidik keluarga, anak-anak serta sahabatnya menjadi orang-orang yang sukses dunia akherat. Apakah rahasianya?
Untitled.pngTernyata belaiu mendidik dengan hikmah dan kasih sayang.





“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS. An Nahl:125)
Hikmah disini bisa berarti mendidik siswa tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan dalam tataran kognitif siswa saja tapi lebih mendalam pada tataran psikomotor dan afektif bahkan pada tataran spiritualitas. Seorang guru yang mempunyai hikmah dia mempunyai ikatan spiritualitas dengan seorang murid, misal dia akan mendo’akan atas keberhasilan siswanya begitu juga sebaliknya. Tradisi seperti ini sudah lama dikenal dalam tradisi pengajaran thoriqot dimana seorang murid sebelum dzikir yang diijazahkan kepadanya, menghadiahkan hadoroh kepada guru atau kiyainya salah satu simbol ngalap berkah  dan sikap sam’an wathoatan pada kiyai atau gurunya.
Selain hal itu ada lagi yang perlu kita ambil qudwah hasanah dari Rasullallah yang kita cintai itu dalam proses pengajaran beliau tidak meneknakan hasil(result concern) akan tetapi menekankan proses (process concern). Ini bisa terlihat dari sabda beliau “mencari ilmu diharuskan atas muslim dan muslimat
Dus yang diwajibkan adalah mencarinya bukan masalah hasilnya. Sehingga dalam mencari ilmu sikap kita tulus bukan akan tendesi nilai-nilai normative tapi lebih kepada skill of process.
Selain itu pola interaksi yang dibangun oleh Islam sejak awal berupa dinamisasi yang mengedepankan uswah hasanah, yakni berdasarkan pada moralitas dan contoh teladan yang baik, sebagaimna sabda Rasullallah Saw seperti yang dikutip serbelumnya,”Aku diutus untuk menyempurnakan moralitas kemanusiaan yang luhur”. Pendekatan moralitas ini meneuntut umat Islam untuk selalu menjadi uswah atau teladan yang baik bagi lingkungan sekitarnya. Maka tidak heran jika sejak awal eksistensinya di Makkah, ummat Islam sudah tampak akomodatif, kreati, dan terkadang defensive terhadap nilai-nilai dari luar. Metode uswah hasanah adalah gerakan beragama yang bersifat soft power yaitu menjunjung tinggi keteladanan, moralitas, pembelaan terhadap kaum lemah, dan penegakan hak-hak asasi manusia[7].

D.          PARAMETER AKHLAK MULIA
Suatu tindakan manusia dikatakan baik atau buruk mestilah merujuk kepada ketentuan Allah. Demikian formula yang diberikan oleh kebanyakan ulama. Perlu ditambahkan, bahwa apa yang dinilai baik oleh Allah, pasti baik pada esensinya. Demikian pula sebaliknya, tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik, karena kebohongan esensinya buruk.
Untitled.pngDisisi lain, Allah selalu memperagakan kebaikan bahkan dia memiliki segala sifat terpuji. Alqur’an kariim surat thoha (20):8 menegaskan:



“Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaulhusna (nama-nama yang baik)”.
Rasulallah Saw juga memerintahkan umatnya agar berusaha sekuat kemampuan dan kapasitasnya sebagai makhluk untuk meneladani Allah dalam semua sifat-sifat Nya, “Takholaqqu bi ahklaqillah” (Berakhlaklah dengan akhlak Allah) Ketika Aisyah ditanya mengenai akhlak Rasulullah SAW beliau menjawab: “Kana khuluqul qur’an” (Budi pekeerti nabi saw adalah alqur’an) (HR: Imam ahmad )
Semua sifat Allah tertuang dalam al-qur’an jumlahnya bahkan melebihi 99 sifat yang popular disebutkan dalam hadis.

E.     RIYADHOH SEBAGAI SOLUSI PENGASAHAN JIWA
Untitled.pngAda satu doa nabi Sulaiman yang terabadikan dalam alquran an-naml ayat 19:





“maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh".
Ayat ini menarik untuk penulis kutip dimana Nabi Sulaiman meminta kekokohan jiwa dikala ia mendapat nikmat (akar kata waza’a) pengetahuan keagamaan seorang belum bisa menjamin seseorang itu akan berakhlak baik tanpa dibekali dengan kekokohan jiwa. Dan kekokohan jiwa ini bisa diikhtari dengan riyadhoh atau mengasah jiwa. Pengasahan jiwa yang dilakukan oleh orang-orang yang berpengaruh di dunia ialah dengan tahanuts, uzlah. Dalam terma Bahasa Indonesia bisa dikatakan bertapa.
Nabi Muhammad sebelum turun gunung menghadapi ummatnya belaiu beruzlah di gua hiro. Nabi Musa selama 40 hari bertapa di Gunung Thursina. Begitu juga dengan Tokoh Sidarta Ghautama. Siti maryam di mihrob nya. Jika jiwa telah kokoh dipastika jiwa itu imun terhadap virus-virus materialistis duniawi.
Inilah sebabnya para Wali Allah tidak pernah sedih juga khawatir pada kehidupannya. Bagaimana mereka hawatir dan bersedih pada sandiwara. Kita hanya sedang bermain peran dan apaun yang terjadi pada kita kini adalah ujian. Itu yang telah difahami oleh jiwa jiwa yang telah mampu menembus hakikat dibalik syari’at dan thorikot.
Waallahu A’alamu bisshowab










BAB III
 PENUTUP


Demikian pembahasan penulis tentang Akhlak mulia karakter esensi pendidikan Islam. Dapat disimpulkan tujuan pendidikan Islam ialah terbentuknya akhlak mulia pada peserta didik. Dan Akhlak mulia ini harus ditunjang dengan pengetahuan yang kompleks akan tetapi berpusat pada moralitas. Dan metode pendekatan yang digunakan pada Akhlak mulia ini ialah dengan uswatun hasanah atau role model,ini berimplikasi pada KBM yang verbalisme kepada KBM yang berruhani ditunjang dengan media pengajaran yang beragam dan variasi metode yang disampaikan guru pada peserta didiknya.




















DAFTAR PUSTAKA


Abdul Thalib (2008), Strategi Implementasi Kebijakan Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah dengan Pendekatan Managemen Mutu Terpadu, Bandung: PT. Dewa Ruci

Agus Musthofa (2008), Memahami Al Qur’an dengan Metode Puzzle, Surabaya: Padma Press

Agus Musthofa (2008), Beragama dengan akal sehat, Surabaya: Padma Press

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, (Bandung: CV. Diponegoro: 2000)

Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany (1997), Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang

Quraish Shihab (2007), Secercah Cahaya Illahi, Bandung: Mizan

Quraish Shihab (2007), Wawasan Al-Qur’an, Bandung: Mizab

Quraish Shihab (2009), Tafsir Mishbah vol. 10, Jakarta: Lentera Hati

Said Aqil Siroj (2006), Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Bandung: Mizan















[1]  Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Thumy Al-Syabany (1997), Falsafah Pendidikan Islam, PT. Bulan Bintang, Jakarta, hal. 47
[2] H.M. Arifin (1987), Filsafat Pendidikan Islam, PT. Bina Aksara, Jakarta, hlm. 15
[3] Zuhairini (1992), Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, hlm. 152
[4]  M. Quraish Shihab (2009), Tafsir Al Mishbah vol. 10, PT. Lentera Hati, Jakarta, Hal. 424
[5]  M. Quraish Shihab (2007), Wawasan Al-Qur’an, PT. Mizan,Bandung, Hal. 253
[6]  Agus Musthofa (2008), Memahami Al-Qur’an dengan Metode Puzzle, Padma Press, Surabaya, Hal. 61
[7]  Dr. K.H. SaidAqil Siroj (2006), Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mizan, Bandung, Hal. 27

Tidak ada komentar:

Posting Komentar