Rabu, 12 Oktober 2011

Jangan tegakkan Keadilan!!!!


JANGAN TEGAKKAN KEADILAN!!!
Nabi Sulaiman AS adalah salah seorang dari putra Nabi Dawud AS. Seperti telah kita mafhumi para nabi dan rasul Allah yang diberi risalah untuk disampaikan pada umatnya, mereka punya riwayat hidup sebagai penggembala ternak. Begitu juga nabi dawud AS ayahanda Nabi Sulaiman AS beliau juga adalah penggembala kambing yang mempunyai keahlian khusus dengan ketapelnya sehingga bisa membidik Jalut sewaktu beliau bergabung dengan bataliyon Thalut. Sehingga Nabi Dawud AS diberi kepercayaan memimpin tampuk kekuasaan Bani Israil setelah pemerintahan Thalut, beliau wafat sekitar 1626 sebelum hijrah pada usia 70 tahun setelah memerintah selama 40 tahun. Nabi Dawud dianugrahi sebelas orang putra salah satu nya ialah adalah Nabi Sulaiman AS yang kemudian mewarisi tahta kerajaan. Nabi Sulaiman AS adalah Raja di Raja. Maha Raja yang agung yang kekuasaannya tidak pernah akan diraih oleh manusia sesudahnya. Itu merupakan Mukjizat, anugrah Allah yang Maha Kaya Raya yang diberikan kepada hamba-hamba nya yang shaleh seperti Nabi Sulaiman AS, beliau mempunyai balatentara lintas makhluk, dari makluk halus bangsa jin yang berdimensi empat yang, menempati langit kedua, juga manusia dan binatang makhluk wadag yang berdimensi tiga yang menempati langit pertama.
Setelah sekilas mengupas Biografi Sulaiman AS Marilah kita meneladani kata kata bijak beliau yang teruntai dalam do’a-do’a yang beliau panjatkan kepada Tuhan-Nya yang menganugrahinya beranekaragam nikmat, terabadikan dalam Surah an-Naml ayat 19robby awzi’ni an asykuro ni’matakallati an’amta alayya wa’ala walidayya waan a’mala sholihantardhohu waadkhilni birohmatika fie ‘ibadikassholihiin”
Artinya:
“Wahai Tuhanku… beri kemampuan aku untuk mampu bersyukur, beri kekohohan jiwa pada ku atas nikmat nikmat yang Kau anugerahkan padaku dan pada kedua orang tua ku, dan beri kekuatan kepadaku untuk mampu beramal shaleh yang kau cintai serta masukkanlah aku kedalam golongan hamba-hamba mu yang shaleh”
Marilah kita coba mengurai serta mencerna dibalik untaian do’a yang sangat mendalam tersebut satu persatu:
Kemampuan bersyukur: Syukur ialah suatu life skill yang mampu memposisikan sesuatu yang dianggap sedikit, kecil atau sepele menjadi sesuatu yang berharga dan patut disyukuri keberadaannya, sehingga dalam situasi apapun ia mampu mengucapkan Alhamdulillah ‘ala kulli hallin wa nikmatin(terimakasih Tuhan akan segala kondisinya dan segala nikmatMu). Dan life skill seperti ini sangat sedikit orang yang bisa melakukannya “waqolilunmin”ibadiyasyakur”QS saba 13. (Dan sedikit sekali dari hambaku bisa bersyukur) yang perlu digarisbawahi disini ialah kata Syakur, itu punya sighot  mubalaghoh dalam bahasa Arab, atau superlative dalam Bahasa Inggris, ini mengisyaratkan buka sekedar syukur tapi banyak bersyukur, atau sangat bersyukur. Jika syukur apabila mendapatkan ni’mat saja itu syukur yang biasa, tapi syukur dalam keadaan lapang atau sempit ini masuk kategori Syakur.
Kekokohan jiwa atas nikmat Allah; jiwa yang kokoh mampu menghadapi segala tantangan hidup baik gelap maupun terang, baik siang maupun malam, dikala dalam kekurangan ia bersabar dan menerima segala ketentuan Tuhan, sehingga dia tidak pernah menghujat Tuhan akan takdirnya karena jiwa telah kokoh, dikala karunia Tuhan berpihak kepadanya ia tidak menjadi sombong karena ia mafhum segala milik Tuhan dan kepada-Nya segala sesuatu akan dikembalikan. Ketika ia diberi harta yang banyak ia akan sadar bahwa harta tersebut bukan semata mata miliknya tapi Allah mempercayakan pada dirinya untuk didistribusikan kepada lini-lini yang membutuhkan, bisa kita analogikan ketika pangkat dan golongan kita rendah fasilitas yang kita miliki juga sedikit gaji kita juga standar, dengan bertambahnya jabatan fasilitas kita bertambah gaji kita naik penghasilan kita naik akan tetapi yang harus pula diingat tanggungjawab kita tentunya lebih besar. Bila kita dipercaya Tuhan memperoleh harta yang berlebih tentu tugas distribusi kita akan lebih banyak daripada orang yang miskin. Mintalah  kaya, mintalah pintar, mintalah cantik, mintalah segala materi yang diinginkan tapi sebelum itu mintalah dulu kekokohan jiwa agar dirimu selamat, seperti pinta Nabi Sulaiman AS.
Amal shaleh yang dicintai; Amal shaleh adalah perbuatan baik yang diperintahkan atau dianjurkan Tuhan atau Rasul yang diinformasikan lewat Alqur,an dan hadist.Banyak macam nya dan sangat banyak kuantitasnya dari mulai yang ringan seperti menyingkirkan duri di jalan sampai perintah berbuat baik pada orang tua,perintah jihad dengan nyawa dan harta.  perbuatan yang baik dalam beragama adalah sebuah keniscayaan, karena hal tersebut merupakan natijah atau manifest dari keimanan kita, akan tetapi apakah kita yakin amal amal yang kita lakukan sesuai yang diinginkan oleh Tuhan? sudah tepat waktunya? ada sebuah contoh kasus seperti ini: Seorang kekasih yang datang dari tempat yang jauh dan tak sua untuk beberapa saat lamanya tiba-tiba datang untuk kita, sebelum kehadirannya tiba kita telah mempersiapkan segala sesuatu agar pertemuan itu benar benar efektif dan berkesan, waktu yang ditunggupun datang, sang kekasih tiba kita menyambutnya dengan segala cinta akan tetapi sang kekasih kurang merespon luapan cinta kita ia malah sibuk dengan pekerjaan atau amal amal yang sebenarnya baik tapi timing dan situasinya kurang tepat, kita mengharapkan dia duduk manis menemani kita bercerita tentang diri dan kehidupan nya selama kita tak berada di sisinya, ternyata ia malah sibuk mencuci piring, nyetrika atau mengepel dan pekerjaan yang kita tak mengharapkannya, mungkin ia berfikir itu untuk membahagiakan hati kita tapi sebenarnya saat itu kita hanya membutuhkan cintanya, diamnya, duduknya. Bukan kerja keras nya. Mungkin saat Tuhan memilih kita jadi orang yang miskin Dia tidak menginginkan kita untuk banyak menyantuni anak yatim, saat kita sakit mungkin Tuhan menginginkan kita diam beristirahat. Saat  kita ditakdirkan sebagai perempuan mungkin Tuhan tidak menginginkan kita jadi imam dalam sholat, menjadi wali nikah, karena sejatinya apabila tendensinya adalah akhirat tak perlu berebut untuk jabatan-jabatan formal value. Prestise disisi Tuhan adalah atqokum atau yang paling bertakwa bukan imam atau makmumnya, laki-laki atau  perempuannya atau status-status material lainnya. lalu yang jadi pertanyaan kemudian ialah apa-apa saja yang harus kita lakukan atau indikator-indikator apa saja untuk mengetahui bahwa amal atau perbutan yang kita lakukan sudah benar-benar apa yang diinginkan oleh Tuhan kita? berikut hal hal yang perlu diperhatikan:
v  Perbuatan baik atau amal-amal shaleh yang kita lakukan harus didasari dengan  cinta, cinta yang tulus murni tak berpamrih material. InsyaAllah bila kita melakukan perbuatan didasari rasa cinta seperti shalat, kita akan sholat tanpa rasa malas, tidak memandang sholat sebagai suatu beban yang harus segera ditanggalkan tapi bila masuk waktu sholat ada satu rasa yang mengharubiru rasa ghiroh cinta yang dalam dan giat melakukannya karena akan bertemu dengan seorang kekasih. Membangun   cinta diatas kebaikan kebaikan. Menyenangkan Tuhan dengan banyak berbuat baik kepada sesama karena pada akhirnya kebaikan yang kita lakukan ialah berbalik pada diri kita sendiri. In ahsantum ahsantum lianfusikukum (Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri Al-isro 07) Tuhan tidak memerlukan amal amal kita kebaikan dan amal shaleh adalah suatu usaha yang dilakukan untuk kebahagiaan kita sendiri rasa ketenangan dalam jiwa kita karena albirru ma sakanat ilaihinufus (kebaikan adalah apa yang membuat hati mu tenang). Jadi bila amal kita ingin diridhoi atau disenangi oleh Allah jangan beramal dengan keterpaksaan, kemalasan dan keletihan, lakukanlah  perintah Tuhan dengan penuh rasa cinta, dan cinta bisa menjadi real manifestasinya dengan pengorbanan-pengorbanan. Seperti terkesan dalam surah At-taubah ayat 111 Yang artinya: “Sesungguhnya Allah memberi dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga kepada mereka”
v  Menerima segala ketentuan Tuhan, setelah kita berusaha pada wilayah yang kita bisa, lalu pasrahkan segala nya pada Allah karena dia yang Maha Tahu apa yang terbaik buat hambanya, sebagai contoh bila kita ditakdirkan sebagai orang miskin tentunya Tuhan tidak akan menuntut kita untuk menyantuni orang-orang miskin, kita tidak boleh bersedih bahwa kita tak mampu berbuat banyak. Lakukan sesuai kemampuan dan keadaan yang memungkinkan kita melakukannya yang penting jangan diam dan berpangku tangan tanpa ikhtiyar. Boleh saja berkeinginan lalu kita berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan impian-impian kita itu tapi setelah itu jangan lupa Tuhan punya hak prerogative penuh apakah mewujudkan impian kita atau tidak. Dan dikala kita meraih kesuksesan seperti yang kita inginkan jangan lupa itu bukan murni usaha kita, ada tangan-tangan halus yang sangat kuat yang membantu mewujudkan impian kita itu, Dialah Yang Maha Kaya dan memiliki segalanya.
v  Mementingkan kualitas daripada kuantitas. kita ambil contoh kasus shodaqoh pada surat Al-baqoroh Ayat 263 ”qaulun ma’rufun khoirun min shodaqotin yatba’uha adza” Yang artinya: Perkataan yang baik dan lemah lembut yang tidak menyakiti lebih baik daripada memberi akan tetapi dengan disertai kata-kata yang menyakitkan.
v  Beramal yang istiqhomah, amal yang terus menerus , ajeg dan kontinyu.
Untaian doa selanjutnya ialah dan masukkanlah saya dengan Rahmat-Mu terhadap golongan orang orang yang shaleh. Untuk dimasukkan kedalam suatu komunitas itu memerlukan kriteria-kriteria tertentu. Jadikanlah aku orang yang shaleh itu mengandung arti yang lebih ringan daripada permintaan masukkanlah saya kedalam golongan orang yang shaleh karena untuk dapat dikatakan golongan tertentu dalam suatu komunitas membutuhkan syarat-syarat yang di sepakati. Nabi Sulaiman AS bermohon masukkanlah saya dengan RahmatMu, bukan karena amalanku karena hanya dengan rahmat-Nya lah segala sesuatu yang sulit menjadi mudah, sesuatu yang sedikit bisa mencukupi, sesuatu yang kurang pantas menjadi pantas, yang kurang mohon ditambahkan oleh Allah. Senada dengan bunyi suatu do’a. ”Ya Allah jangan perlakukan saya sesuai keadilan-Mu karena keadilan-Mu dapat mengantar kami terkena sangsi. Tapi perlakukanlah kami berdasar Rahmat-Mu yang tercurah karena dengan demikian kami akan memperoleh yang terbaik dari-Mu”   Aamiiin…………
Wallahu a’lam bishowab…
 
By. Faizah Syathori

Tidak ada komentar:

Posting Komentar